Pulau Boros dan Pulau Poto, Tanah Warisan Zuriat Yang Disumpah

Pulau Boros dan Pulau Poto, Tanah Warisan Zuriat Yang Disumpah

Oleh : Gindo H Pakpahan

BINTAN-korankomunitas.com : Tamak, itu yang mungkin cocok disandang untuk mereka yang tega menjual tanah warisan hak waris orang lain. Mengapa tidak, karena tergiur uang milyar rupiah, mereka tidak perduli lagi menghadapi kosekuensi hukum  dunia Akherat.

Bayangkan, diduga hanya dengan dasar surat perjanjian berkebun di Pulau boros yang dibuat oleh datok dan orangtuanya dengan pemilik tanah, ternyata 2 dari 3 orang keturunan yang menumpang berkebun diatas tanah 16 Hektar tersebut tega menerbitkan surat alashak.

Malahan yang lebih parah lagi, disinyalir Pihak Pertama dan Pihak kedua pembuat surat pernjanjian tersebut bukanlah orang keturunan melayu Riau Lingga. Pihak pertama keturunan Bangka Belitung dan Pihak Kedua Keturunan Palembang.

Jika benar, terbitnya Surat Alashak dengan dasar surat perjanjian, maka besar kemungkinan ada keterlibatan pihak-pihak terkait di birokrasi penerbitan surat kepemilikan tanah.

Dari hasil penelusuran korankomunitas.com, ditemui salah seorang nara sumber yang layak dipercaya, memaparkan asal-usul kepemilikan tanah di Pulau Boros.

Singkatnya, bermula dari kemelut politik yang terjadi setelah tahun 1905 Sultan Riau Lingga menolak menandatangani perjanjian yang ditawarkan oleh Residen Riau Tanjungpinang (saat itu W.A.De Kanter) dan semakin memanas antara Residen Belanda dengan Sultan Riau Lingga yang mencapai puncaknya tanggal 11 Februari 1911, tentara Belanda mengepung dan mendarat di Pulau Penyengat hendak menangkap Sultan dan orang-orang besar kerajaan tersebut. Namun, ternyata yang didapatkan tentara balanda pada saat itu, hanyalah segelintir orang saja dan pulau Penyengat ternyata sudah hampir kosong dari penduduknya.

Sultan Riau-Lingga beserta keluarga dan para kerabat mengungsi ke Singapura dan yang lainnya menyelamatkan diri masing-masing mengungsi ke pulau-pulau terdekat dari ancaman tentara Belanda.

Dari sekian banyak penduduk pulau penyengat yang mengungsi, adalah  Osman Bin Abdul Wadud dan Ambak Bin Abdul Wadud, bersama anak isteri dan keluarga terdekatnya berhijrah ke arah timur pulau Penyengat.

Ambak Bin Abdul Wadud, bersama anak isteri dan keluarganya membuka kebun dan menetap di pulau Mapur. Sementara  Osman Bin Abdul Wadud bersama anak dan isterinya membuka kebun dan menetap di Pulau Kelong, Pulau Poto dan Pulau Boros.

Khusus Pulau Poto dan Pulau Boros, Osman Bin Abdul Wadud menyerahkan tanggungjawab kepada anaknya bernama Abdul Gani bin Osman sampai Osman Bin Abdul Wadud meninggal dunia dan dimakamkan di pulau Kelong.

Tanggungjawab pulau Poto dan pulau Boros yang diemban oleh Abdul Gani bin Osman sampai ia memiliki dua orang anak laki-laki yakni Pertama Muhammad Saleh dan Kedua Abdul Wadud. Tetapi sayangnya anak kedua yakni Abdul Wadud meninggal dunia  diusia muda dan belum menikah.

Keturunan laki-laki dari  Abdul Gani bin Osman yang pertama Muhammad Saleh bin Abdul Gani, menikah dengan Halimah binti Mahmud bin Ambak dan mendapat anak laki-laki bernama  M. Jusuf, namun saat melahirkan M. Jusuf,  Halimah binti Mahmud bin Ambak meninggal dunia.

Setelah menduda sekian lama Muhammad Saleh bin Abdul Gani, ingin menikahi Husna binti Daud, janda beranak tiga. Namun, ayahnya Abdul Gani bin Osman melarang dengan kerasnya, sampai mengucapkan sumpah, Muhammad Saleh bin Abdul Gani boleh menikah dengan wanita manapun asalkan  jangan dengan Husna binti Daud, jika larangan ini dilanggar maka DISUMPAH SEBATANG JARUM PATAH PUN DARI HARTA PUSAKA Abdul Gani Bin Osman dan Perak binti Ambak DIHARAMKAN Menjadi milik Muhammad Saleh bin Abdul Gani.

Abdul Gani bin Osman meninggal dunia dan dimakamkan di pulau Poto bersama isterinya Perak binti Ambak.

Kendati begitu kerasnya sumpah  Abdul Gani Bin Osman, ternyata tetap dilanggar anaknya Saleh bin Abdul Gani dan menikahi Husna Binti Daud janda beranak tiga dari Abu Bakar.

Tidak sampai disitu, dalam perjalan perkawinan mereka ternyata setelah kedua orang tua Muhammad Saleh bin Abdul Gani meninggal dunia, semua harta pusaka Abdul Gani bin Abdul Wadud dan Isterinya Perak binti Ambak habis dikuasai oleh Husana binti Daud.

Nara sumber juga menceritakan salah satu akibat SUMPAH orang tuanya yang diemban Muhammad Saleh bin Abdul Gani, yaitu semasa akhir hidupnya telah menerima kifarat sumpah orang tuanya, yakni selama bertahun-tahun ia mengalami penyakit hilang ingatan dan hidupnya tersiksa oleh isteri yang tidak direstui orang tuanya.

Banyangkan, semasa hidupnya Saleh bin Abdul Gani terus tersiksa, hingga untuk makan sehari-hari saja ia harus menumpang makan di rumah Encik Yusuf Idris/Encik Rugayah Idris, hal ini terjadi karena Harta pusaka miliknya sudah habis dikuasai isteri keduanya Husna binti Daud. Disamping hilangan ingatan, tubuhnya terus diserang penyakit hingga akhir hayatnya sengsara menderita karena termakan kifarat sumpah.

Disisi lain, belum dapat dipastikan bagaimana sebenarnya kebun milik Abdul Wadud pusaka milik Abdul Gani bin Osman bisa berpindah tangan jadi milik Raden Ayu Sedep isteri Datuk Khailani Hasan yakni asisten Residen (Amir Bintan/ Keturunan Palembang.red) yang berkedudukan di Pulau penyengat. Namun ada dugaan bahwa kebun pusaka tersebut Pulau Poto dijual Husna binti Daud kepada salah seorang tauke keturan thionghua, sedang kebun pusaka di pulau Boros lebih kurang 16 Ha, besar kemungkinan diambil paksa oleh pihak yang berkuasa ( Asisten Residen Belanda/ Amir Bintan)  atau mungkin juga dijual oleh Husna binti Daud kepada Raden Ayu Sedep (berdiam dan bertempat tinggal di pulau penyengat)

Nara sumber juga menegaskan, bahwa “Husna binti Daud, Isteri kedua Muhammad Saleh bin  Abdul Gani bukanlah termasuk Ahli waris dari Abdul Gani bin Osman atau Perak binti Ambak, karena menikah dengan Muhammad Saleh bin Abdul Gani tidak direstui orang tuanya, bahkan disumpah tidak boleh memiliki Hak Aliwaris pusaka dari Osman bin Abdul Wadud dan Ambak bin Abdul Wadud yang berkebun di pulau Kelong, pulau Mapur, pulau Boros dan pulau Poto” tegasnya.

Lebih lanjut Nara sumber juga menegaskan, “Silahkan saja jika ada pihak-pihak yang mengaku sebagai ahli waris yang mempunyai hak atas tanah pulau Boros dan pulau Poto dari atau pihak-pihak yang ikut bersubahat mengesahkan Hak atas pulau Boros dan pulau Poto, kami ahli waris pemilik pusaka diatas pulau-pulau tersebut hanya mengingatkan kifarat sumpah moyang kami yang raib dengan jalan bathil, Insha Allah akan menanggung penderitaan di dunia hingga akhirat, Aamiin ya rabbal’alamin. Tegasnya mengakhiri.

Untuk selanjutnya, korankomunitas.com akan mengangkat dugaan penggelapan penerbitan surat Alas hak diatas tanah sumpahan, pulau Boros lebih kurang 16 Ha tersebut (*)

 

 

 

 

 

 

Share This Post

Post Comment