Rp. 200 Milyar lebih, Tiga GARDU INDUK Pulau Bintan MANGKRAK, Satu Selesai

Rp. 200 Milyar lebih, Tiga GARDU INDUK  Pulau Bintan MANGKRAK, Satu Selesai

BINTAN : Kabar baik bagi masyarakat Pulau Bintan karena mulai Selasa (10/11/2015) sudah bisa menikmati arus listrik yang disalurkan melalui interkoneksi kabel tanam bawah laut, tentunya harapan untuk menjadikan Pulau Bintan terang-benderang akan terwujud pula.

Bahkan, Proyek interkoneksi Batam-Bintan (Babin) milik PT PLN (Persero) tersebut di-launching oleh Penjabat Gubernur Kepri Agung Mulyana didampingi Jurlian Sitanggang, General Manager (GM) PT PLN Unit Induk Pembangunan II wilayah Sumatera. juga Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, mantan Gubernur Kepri HM Sani, Wakapolda Kepri Kombes Fiandar, perwakilan FKPD Kepri dan manajemen PLN Tanjungpinang. Tentunya, realita ini bukanlah sekedar basa-basi, namun menjadi harapan jutaan masyarakat Pulau Bintan pada umumnya, agar krisis listerik tidak terulang lagi.

Lebih meyakinkan lagi, GM PT PLN Unit Induk Pembangunan II wilayah Sumatera Jurlian Sitanggang mengatakan, untuk sementara, daya listrik interkoneksi Batam-Bintan yang akan disalurkan sebesar 15 MW. Daya ini dibagi 7 MW untuk Tanjung Uban dan 8 MW untuk disalurkan ke Tanjungpinang dan pembangunan listrik interkoneksi ini sudah dimulai sejak tahun 2013 lalu.

Namun baru dapat terealisasi tahun 2015 ini. Sebenarnya listrik interkoneksi ini sudah dilakukan kajian dan survei sejak tahun 2005 lalu. Gardu Induk (GI) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari saluran transmisi distribusi listrik. Dimana suatu system tenaga yang dipusatkan pada suatu tempat berisi saluran transmisi dan distribusi, perlengkapan hubung bagi, transfomator, dan peralatan pengaman serta peralatan kontrol.

Tentunya, ini sangat penting. Namun sayang, ada ditemui 3 dari 4 pembangunan GI tidak selesai hingga saat ini, padahal Berdasakan RUPL PLN 2010 keempat pembangunan GI ini seharusnya sudah dapat dioperasikan secara komersil ditahun 2014 yang lalu. yakni GI Air Raja, GI Kijang, GI Tanjung Uban dan GI Sri Bintan, dengan pengalokasian APBN Rp. 200 Milyar lebih.

Kegiatan pembangunan GI tersebut dimulai sejak tahun 2011 lalu lalu terhenti tahun 2014, dan kini mungkin hanya GI Tanjung Uban yang sudah selesai dari ke 4 GI di pulau Bintan.

Pembangunan GI 150 kv Sri Bintan (1 x 30 MVA), nilai lelangan HPS Rp 57.619.001.000. Dilaksanakan oleh KSO Primanaya-Multi-Swakarya dangan nomor kontrak : 018.PJ.2011/131/IKITRING SUAR/2011, sebagai pengawas yakni PT. PLN (Persero) JMK UMK IV (Jasa Menejemen Kontruksi- Unit Menejemen Kontruksi IV.) Anehnya, lokasi pembangunan GI tersebut bukanlah di Sri Bintan, melainkan di wilayah Sri lobam, tepatnya diwilayah simpang Lagoi.

Dan yang lebih mengherankan lagi hasil pekerjaan dilokasi tersebut hanya terlihat berdiri Mesin GI, pondasi-pondasi tiang besi yang sudah berkarat yang belum dicor dengan campuran semen. Lobang-lobang itu dibuat untuk posisi pondasi tower GI dan akibat tidak selesainya pekerjaan GI itu, hingga terbiar tanpa pengawasan, salah satu Lobang dilokasi tersebut telah merenggut nyawa seorang anak berusia 6 tahun. Namun sayang, orang tua anak yang malang itu tidak mau berkomentar.

Disisi lain, yang lebih mengherankan lagi terdapat perlengkapan pendukung GI yang berserakan di beberapa rumah penduduk disekitar itu, yang ditaksir Milyaran Rupiah.

Menindak lanjuti temuan proyek multi years ini, dikonfirmasi Edi Yusri, yang baru menjabat sebagai Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bintan, beberapa saat lalu, mengatakan tidak tahu pasti penyebab mangkraknya pembangunan GI ini. “menurut informasi kendalanya lahan untuk pembangunan gardu induk ini dalam status hutan lindung, nanti kita cari tau lebih jauh lagi” kata Edi Yusri.

Begitu juga dengan Pihak PLN, Majudin manejer PLN cabang Kota Tanjungpinang mengatakan tidak begitu mengetahui terkait pembangunan GI yang ada dipulau Bintan.”kalau mengenai progres dan berapa jumlah uang yang sudah dibayar informasinya ada di UIP, kita tidak ada pegang datanya” kata majudin.

Dikonfirmasi Unit Induk Pembangunan Jaringan Sumatera I ( UIP RING I ) malahan mengaku tidak tahu-menahu terkait pembangunan GI yang ada di Provinsi Kepulauan Riau dan menyarankan untuk menyakan kepada UIP II, begitu juga dengan UIP II, juga mengaku tidak tahu terkait pembangunan GI yang ada Di Provinsi Kepulauan Riau dan menyarankan Untuk menanyakan kepada UIP I.

Bayangkan, jika ke 4 GI Jaringan Sumatera tersebut selesai dikerjakan pada tahun 2014 lalu, maka di Pulau Bintan tidak akan terjadi krisis listerik pada tahun 2015. Jika, Sesuai dengan perencanaan Pengumuman Pelelangan Umun Nomor : 02/133/PL-INKITRING SUAR/2011 TAHUN ANGGARAN 2011 : Paket Pembangunan GARDU INDUK 150 kV Air Raja (2 x 30 MVA) HPS Rp. 72.653.460.000, Milyar. Paket Pembangunan GARDU INDUK I 150 kV Sri Bintan (1 x 30 MVA) HPS Rp. 57.619.001.000, Milyar. Paket Pembanguna GARDU INDUK 150 Kv Kijang (1×30 MVA) HPS Rp. 40.238.137.000, Milyar. Paket Pembangunan GARDU INDUK 150 Kv Tanjung Uban (1 x 30 MVA) HPS Rp. 40.102.445.000, Milyar.
Realitanya, kondisi GI di lokasi Sri Bintan, Air Raja dan Kijang selayaknya dipertanya oleh pihak-pihak terkait.

Oleh Pandi Pandiangan

 

Share This Post

Post Comment