Putusan MA Tak Digubris, Sengketa Lahan Tak Kunjung Dieksekusi

Putusan MA Tak Digubris,  Sengketa Lahan Tak Kunjung Dieksekusi

Foto : Marzuki dan istri

BINTAN : Perkara Kasasi Perdata terkait sebidang lahan yang berada di Jalan Sei Datok Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), antara Muhammad Pakse dengan Jurame, sampai saat ini belum juga dieksekusi.

Padahal, Putusan tanggal 27 Juli 1995, No : 12 / Pdt. G / 1995 / PN Tpi. Junto, Pengadilan Tinggi Riau, Putusan tanggal 24 April 1996, No : 108 / PDT / 1995 / PT. Riau, telah memenangkan pihak Marzuki. Tapi, sampai berita ini dikirim, pelaksanaan eksekusi belum juga dilakukan.

Bukan hanya itu. Putusan Mahkamah Agung (MA) No : 2518 K / Pdt. 1996 pun telah dikeluarkan. Namun, belum terlihat tanda-tanda Pengadilan Negeri Tanjungpinang akan mengeksekusi lahan tersebut.

Sementara, pihak Marzuki yang telah menunggu bertahun-tahun, mulai diselimuti segudang tanya.

Jumat, (19/01), pihak Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang coba dikonfirmasi ulang. Menurut Santonius, yang menjabat sebagai Humas, bahwa pihaknya saat ini sedang mengajukan persoalan tersebut ke Pengadilan Tinggi Riau, mengenai hal itu, kami dari Pengadilan Negeri Tanjungpinang sedang mengajukan surat ke Pengadilan Tinggi Riau. Dan sampai sekarang kami masih belum menerima jawabannya. Jadi rencana kami, hari Senin lusa kami coba menanyakannya ke PT Riau, “kata Santo sapaan akrab, di lobby room PN Tanjungpinang.  Lelaki berdarah Batak ini menambahkan.

Jadi sebetulnya, didalam persoalan ini ada hal-hal yang membuat kami bingung. Yaitu mengenai dua ukuran lahan yang berbeda luasnya. Selain itu, kata Santo. Ada beberapa hal yang membuat kami sedikit kesulitan. Diantaranya, masalah ukuran luas yang berbeda. Jadi, PN Tanjungpinang berencana akan melakukan pengukuran ulang atas lahan yang mau dieksekusi itu.

Sebelumnya, Floriberta Setyowati SH. Panitera di PN Tanjungpinang, coba ditanyakan masalah tersebut. Menurutnya, dirinya pusing dibuat permasalahan itu, “loh . . .itu gara-gara saya bolak-balik diteror sama orang-orangnya Jurame. Daripada saya pusing, makanya saya serahkan saja ke Pengadilan Tinggi. Jadi untuk sementara, persoalan itu sedang diproses, “beber Berta di lobby room PN Tanjungpinang.

Disisi lain, Marzuki cs yang nyaris jenuh dalam penantian, mengharapkan PN Tanjungpinang agar segera melakukan eksekusi terhadap lahan itu, “sudah bosan kami menunggu janji dari Pengadilan. Kenapa sampai sekarang belum juga dieksekusi. Padahal, Putusan Mahkamah Agung sudah dikeluarkan. Putusan itu jelas-jelas menerangkan, bahwa pemenang dalam perkara ini saya. Tapi kenapa tidak juga dieksekusi. Sebenarnya apa maunya Pengadilan Negeri Tanjungpinang itu, “ujar Marzuki di rumahnya.

Zuki (sapaan akrab) menambahkan, kalau saya rasa, semua sudah cukup jelas. Sertifikat yang pernah ada atas nama Jurame, sudah dibatalkan. Jadi apalagi alasan. Rapat Kordinasi pun sudah dilaksanakan, katanya kesal.

Sikap PN Tanjungpinang yang terkesan nyeleneh itu, memang pantas dipertanyakan. Bagaimana mungkin Putusan MA sudah Ingkrah, harus kembali lagi ke Pengadilan Tinggi. Herannya lagi, ucapan Panitera yang terkesan ngawur. Hanya gara-gara mendapat teror, permasalahan itu harus dibawa kembali ke Pengadilan Tinggi.

Untuk menyikapi persoalan itu, diminta kepada lembaga yang mengawasi Peradilan di negeri ini agar segera menanggapi keluhan masyarakat kelas bawah ini. Sepertinya, pameo yang mengatakan Bagai Pisau Tajam Kebawah Tumpul Keatas, sedang terjadi di dalam permasalahan ini. Wassalam , , ,

Oleh Richard Batubara

 

Share This Post