Perang di Laut China Selatan Akan Segera Dimulai. Sebaiknya Indonesia Bersiap

Perang di Laut China Selatan Akan Segera Dimulai. Sebaiknya Indonesia Bersiap
Photo ilustrasi

Intensitas konflik Laut China Selatan (LCS) di tengah pandemic corona ini malah meningkat.

“Laut Cina Selatan atau kini Laut Natuna, berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 ditetapkan bahwa secara hukum internasional, Perairan Laut Natuna merupakan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia.”

Kapal Amerika, Australia dan China sudah saling berhadapan.”

AS juga sudah parkir 4 pesawat pembom B-1 nya di pangkalan udara Andersen di Guam.  Pasukan mengatakan pembom akan melakukan “misi pencegahan strategis” di wilayah Indo-Pasifik.

Tinggal tekan picu senjata. Maka dimulailah Perang LCS.

LCS wilayah perang, berarti ekspor-impor China sendiri, Filipina, Vietnam, Malaysia, Jepang, Taiwan bahkan Korea Selatan akan terhambat

Bila kegiatan ekspor-impor dari wilayah terdampak ini terhambat, maka Indonesia sebaiknya harus sudah siap dengan alternatif dari negara di luar wilayah perang.

Para pemangku kepentingan Indonesia dari lembaga dan multi departemen terkait sudah waktunya duduk bareng merumuskan kebijakan untuk minimalisasi dampak baik hubungan luar negeri, pertahanan maupun ekonomi.

Ini memang harus dilakukan karena bila perang pecah di LCS maka dapat dipastikan tidak akan  berlangsung sesaat. Akan makan waktu berbulan bulan, bahkan bisa setahun atau lebih dari itu.

Juga harus ditegaskan sikap Indonesia dan juga ASEAN, membela Filipina, Malaysia, Brunei, Vietnam atau sebaliknya (membela China).

Indonesia juga harus berpikir dan mengarahkan kebijakan dalam menilai keuntungan ekonomi apa yang bisa didapatkan bila wilayah ini terdampak perang kepada sisi impor negara tetangga yang tadinya disuplay oleh China dan Jepang, Korea.

Bukan tak mungkin intensitas pergolakan dalam negeri di Taiwan, Hongkong akan ikut meningkat. Hal ini juga akan menghambat kegiatan perdagangan internasional termasuk ke Indonesia.

Semoga para pemangku kepentingan Indonesia sudah menyiapkan strategi antisipasi. Dan terutama tidak buat kebijakan grabag grubug seperti biasanya.

Demikian juga bagi pengusaha dan rakyat Indonesia yang berhubungan dengan China baik langsung maupun tidak langsung, harus mulai bersiap membuka hubungan dengan negara lain mulai dari sekarang.

Atau ikut tergulung krisis ekonomi akibat perang, Sekian.

(by Adi Ketu)

Share This Post