Kisah Usang PT. Saipem di Kabupaten Karimun Hasim Tuntut Ganti Rugi, Minta Aunur Rafiq Turun Tangan

Kisah Usang PT. Saipem di Kabupaten Karimun  Hasim Tuntut Ganti Rugi, Minta Aunur Rafiq Turun Tangan

Koran Komunitas Edisi : 61 tahun 2009

PANGKE (Komunitas) : Kasak–kusuk sengketa pelepa­san hak tanah oleh PT Saipem, hingga kini belum berhasil terkuak. Siapa sebenarnya aktor intelektual dibalik kasus tersebut. Ketua Tim 9 Pelepasan lahan PT Saipem, Aunur Rafiq yang juga menjabat sebagai wakil Bupati Karimun, telah dituding oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Mahasiswa, otak dibelakang kasus tersebut.

Belum terungkapnya kasus tersebut, ternyata masih ada hak warga yang belum dipenuhi, menurut Hasim (62th) (8/12) bahwa dirinya bersama Samad (57th) rekannya, hingga kini belum mendapatkan hak ganti rugi rumah berukuran 6×8 meter yang sekarang sudah rata dengan tanah seiring gencarnya pembangunan fisik oleh PT Saipem.

Hasim menjelaskan, awal ganti rugi tanah, oleh  Tim 9, telah menjanjikan tanah dan apa saja yang berada diatas tanah, akan diganti rugi oleh Tim tersebut, baik tanah, rumah, tanam-tanaman dan lainnya. Namun apes buat Hasim. Setelah yang lainnya mendapatkan hak ganti rumah baik tanah dan rumah. Tapi dirinya masih dalam penantian. Diduga kuat, hak Hasim telah “ditilep” oleh Suhaimi, “saat saya jumpa M. Noor Idris dikantor Bupati, dia bilang, uang tuh dah dimakan sama Suhaimi. Mana mungkin dia tanggungjawab. mana ada uangnya buat talangi uang yang dah dimakan dia (Suhaimi-red). Makannya, Suhaimi lari-lari tak mau dijumpai” ujar Hasim seraya menirukan perkataan Noor Idris. Mantan Kepala Desa yang juga mantan Residivis Rutan II B Karimun ini.

Adapun mantan Residivis Rutan IIB Karimun terpidana kasus pelepasan lahan PT Saipem, yakni mantan Kabag. Tata Pemerintahan, Yan Indra, mantan Kasubag TU pada Bagian Pemerintahan, Suhaimi, mantan Camat Meral, R. Ubaidillah dan Kepala Desa Pangke, Nur Idris, telah dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara. Dan saat ini telah bebas.

Lanjut Hasim, Kendala yang dialaminya pada penggurusan adalah, hilangnya berkas-berkas pengurusan ganti rugi miliknya. Hal ini disebabkan, berkas Hasim hilang ketika M. Noor Idris dan Suheimi masih dipenjara, “ kata pak M. Noor pada saya, Suheimi tidak tahu lagi dimana keberadaan berkas saya. Dah hilang kata dia tuh” ujar Hasim. Seraya meng­hisap rokok filternya. “kata Efendi, Dokumen hilang, saya ditolak, kami nih dah macam bola, tolak sana-sini” lanjut Hasim kepada Komunitas.

Warga yang sudah menda­patkan ganti rugi sudah lama dipenuhi dengan rata-rata pem­bayaran rumah 20-30 dan 40 Juta/Rumahnya, Hasim pun sudah mencoba menjumpai Sekretaris Daerah, Anwar Hasym, namun Anwar kepada Hasim menga­takan, bahwa anggotanya akan segera menindaklanjuti permo­honan tersebut. Bahkan, Anwar kala itu meminta Hasim, untuk memenuhi persyaratan. Dengan mengurus dokumen dari kelu­rahan, desa hingga ke kecamatan, “ketika saya jumpa pak Sekda, katanya anggo­tanya nak urus, makanya saya disuruh urus surat ini dan itu. Tapi tak ada juga, “ ujar Hasyim sambil menunjukan dokument yang disarankan oleh Anwar.

Setelah semua usaha yang dicari Hasim tidak membuahkan hasil. Hasyim pun memohon, agar Aunur Rafiq dapat membantu dirinya, “kalau dapat duitnya dikasi saja. Kami nak minta tolong sama siapa lagi. Pak Rafiq tak mungkin tak bayarlah. Pak Rafiq sudah terlindungilah. Kan sudah masuk (penajara-red) empat orang. Masa Ketua Tim 9 tak mau bantu” ucap Hasyim yang juga menuding Rafiq lah yang bertanggung jawab atas semua ganti rugi.

Dua orang warga di desa Pangke, yang namanya enggan disebutkan, pada hari yang sama mengatakan. Sebenarnya uang ganti rugi telah diberikan. Namun orang atau pihak yang seharusnya memberikan kepada Hasim tidak menyam­paikannya, “sebenarnya semua sudah dikasi uang ganti ruginya. Tapi siapa yang ngasi ganti rugi itu ? Sampai-sampai tak tersa­lurkan. Jadi, hal itulah yang perlu dicari,” ujar warga tersebut diamini warga lainnya.

Kuat dugaan, berdasarkan informasi yang dihimpun, bahwa Suhaimi lah dalang atas ganti rugi yang telah “ditilep” tersebut. Namun, ketika Komunitas ingin mengkonfirmasikannya ke Suhaimi dikediamannya, tapi tidak berada ditempat.

Ironisnya, ketika hal ini hendak dikonfirmasikan ke Aunur Rafiq, justru Aunur tidak bisa diganggu, “bapak tidak bisa diganggu, “kata Ajudan itu singkat. Jawaban yang dilontarkan sang Ajudan itu, menimbulkan asumsi miring. Diduga kuat, bahwa Aunur saat itu, enggan ditemui Wartawan.

Akhirnya. Hari Rabu (9/12) lalu, Aunur Rafiq, ketua Tim 9 yang bertugas melakukan hal Kom­pensasi Pembebasan lahan PT. Saipem, menghubungi Komunitas, melalui telepon genggam milik seorang stafnya bernama Thamrin, Aunur Rafiq mengatakan, bahwa pengaduan warga atas ganti rumah hanya omong kosong. Menurutnya, hal tersebut berdasarkan hasil koordinasi dengan Suhaimi, mantan Kasubbag TU di Pemerintahan Karimun.

“Berdasarkan laporan petugas dilapangan waktu itu, saya telah koordinasi dengan Suhaimi dengan yang lainnya. Ternyata, rumah masyarakat yang minta harus dibayar, bukan berbentuk rumah. Tapi berupa Gubuk atau Pondok. Makanya wajar, jika tuntutan itu tidak dibayar. Karena, surat dari dinas PU tidak ada. Jadi, masyarakat itu jangan mengada-ada. Bisa kacau saya dibuatnya. Makanya, jujurlah mereka kalau itu rumah atau pondok” ujar Rafiq dengan kesal.

Sementara, menurut penu­turan Hasyim, bahwa rumahnya tidak berbeda dengan rumah warga lainnya. Jangan karena kehidupan Hasim waktu itu masih sebagai petani, dan rumahnya berada diareal kebunnya, yang kini rata dengan tanah. Mengenai ganti rugi tanah, Hasim mengakui sudah direalisasikan. Walaupun Aunur Rafiq ngotot tidak akan melakukan pembayaran dan tidak mengakui bahwa rumah yang diklaim warga tersebut bukan rumah. Tapi, Aunur Rafiq berjanji akan melakukan pertemuan dengan Hasyim, untuk melakukan check and recheck.

Hasyim Bantah Lakukan Pembohongan, kepada Aunur Rafiq ketika berbicara lewat Handphone.

Untuk menutupi kekesalan Hasyim, melalui wartawan Komunitas, telah dilakukan mediasi melalui telephone geng­gam staff Aunur Rafiq.

Berikut petikannya :

Hasim: “bagaimana pak, rum­ah saya kapan nak dibayar?”

Rafiq: “kalau bapak tidak keberatan, besok bapak datang, kita bicarakan dengan baik-baik apa permasalahannya”

Hasim: “boleh pak, tapi bapak jangan bilang saya menga­da-ada, barang (rumah-red) tuh memang ada, jangan saya dibohongi pak”

Rafiq: “saya tidak ada bilang bapak mengada-ada, apa kata wartawan itu? (nada kesal menu­ding wartawan Koran ini mela­kukan pembohongan), lebih baik kita jumpa dan kita selesaikan dengan baik-baik saja, bapak sudah jumpak pak Bupati sebe­lumnya?

Hasim: “saya sudah jumpa bapak Bupati, kata pak Bupati sudah dibayar, saya sudah tua pak, sudah beruban, tak mungkin saya bohong”

Rafiq: “ya sudah pak, besok (kamis, 10/12-red) jam 9.30 pagi, Assalamuailaikum salam,

Hasim: “Walaikum salam. WRB”

Setelah pembicaraan usai, Hasyim menjelaskan kekesa­lannya. Merasa Hasyim dekat dengan almarhum orang tua Aunur Rafiq, bernama Mat Kaus, yang dulu merupakan pedagang dan tukang potong lembu, “saya kenal orangtua dia (Rafiq-red) tuh, semua orang pangke kenal dengan orang tua pak Rafiq, Mat Kaus, orangnya baik, ramah, pintar bergaul” ujar Hasyim mengenang masa lalunya.

Pembicaran Hasyim, memang tak terlepas dari ketegasannya, ketika memperjuangankan kemerdekaan RI dari penjajahan. Karena, Hasyim pernah berjuang pada masa Agresi Militer belanda, pada tahun 1945. Dan Hasyim juga pernah mengecap pendidikan hingga kelas III Sekolah Rakyat (SR-Red). Dan saat ini, segala dokumen menyangkut perjua­ngannya, telah hilang, ketika mengalami musibah. Waktu itu, kapal yang ditumpanginya, tenggelam di perairan Selat Panjang.

Perlu diinformasikan, bahwa Rumah Hasyim dibayar Rp. 10 Juta. Samad Rp. 7 Juta. Tapi pembayarannya dilakukan tahun depan. Bersempena hari Anti Korupsi sedunia (10/12) yang digelar di gedung Pertemuan Kantor Bupati, Akhirnya Aunur bertemu dengan Hasyim dan Samad. Namun, dalam pertemuan itu, Komunitas tidak dapat turut serta. Lantaran dihadang petugas Satpol PP.

Usai pembicaraan, Hasyim akhirnya memaparkan hasil pertemuan mereka dengan aunur. Menurut Hayim, dalam perte­muan itu, juga terlihat Chaidir, Asisten I, Noor Idris mantan Kepala Desa Pangke dan Suhai­mi, mantan Kasubbag TU di pemerintahan Kabupaten Karimun. Berikut petikannya :

Rafiq: “jangan memper­panjang masalah pak Hasim, kalau sudah jumpa kan lebih baik, berapa mau bapak?

Hasyim: “samakan saja pak dengan yang lain”

Rafiq: “sebenarnya tidak layak dibayar, (sambil menun­jukan dokumen, padahal dokumen Hasim diklaim hilang oleh Efendi, Plh Kades Pangke), tapi damai-damai saja.”

Hasyim: “saya minta disama­kan dengan yang lain, Rp. 25 Juta pak”

Rafiq: “yang wajar – wajar saja pak Hasim”

Hasyim: “gimana lagi pak, sudah lama saya menunggu ini, saya sudah ketemu yang itu yang ini, mau jumpa pak Rafiq juga susah, saya minta keputusan hari ini”

Setelah nego, Hasyim setuju dibayar Rp. 10 Juta dan Samad Rp. 7 Juta

 

Rafiq: “tapi sekarang uang lagi susah, ini juga pusing mau cari uang dari mana, nanti dibilang Korupsi lagi”

Hasyim: “itu yang bayar kan uang Negara, bukan uang Bapak”

Rafiq: “makanya pakai uang Negara, kasih saya tempo satu bulan, kalau sudah jumpa kan senang”. (*)

Share This Post

Post Comment