IBU PERTIWI MENANGIS, “KRIMINAL DALAM VIRUS CORONA”

IBU PERTIWI MENANGIS, “KRIMINAL DALAM VIRUS CORONA”

Oleh Mas Yanto, Ketua Umum #SatuHati

Disaat mewabahnya Coronavirus (COVID-19), realitanya bangsa Indonesia bukan hanya menghadapi kesusahan secara ekonomi saja tetapi salah satu hal yg paling penting juga adalah masalah keamanan.

Dimana kriminalitas meningkat tajam. Pelaku kriminal adalah orang-orang yang melakukan tindakan pelanggaran hukum disebabkan kondisi tertentu yang membuat mereka melakukan perbuatan kriminal.

Secara ilmu psikologi hal tersebut dibagi dua kriteria umum. Yang pertama karena “kelainan faktor kejiwaan” dan kedua dikarenakan faktor ekonomi atau terdesak kebutuhan hidup. Dua hal tersebut di atas dibagi kedalam sub-sub bagian lagi. Tapi disaat wabah covid-19 saat ini yg paling banyak terjadi adalah kriminalitas yg disebabkan oleh faktor ekonomi. Dimana dampak Covid-19 ini telah meluluh lantakkan ekonomi disebagian besar negara-negara dunia termasuk di negara tercinta kita, jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat, nilai tukar Dollar yg tinggi, ekspor defisit dan banyak faktor lain yg lagi dihadapi ibu pertiwi.

Sebagaimana kita ketahui saat ini pemerintah dibawah kemenkumham telah melepas 35.000 napi dengan beraneka syarat, seperti ada wajib lapor dan lainnya. Sesuai dengan pembukaan UUD 45 alenia 4, Bahwa Negara melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Hal ini adalah konsekuensi, bahwa melindungi nyawa setiap rakyat Indonesia merupakan hukum dan kewajiban tertinggi negara. Salah satunya yaitu, negara menerapkan pembebasan napi bersyarat demi melindungi nyawa mereka dari covid-19 dikarenakan Over capacity pada rumah tahanan negara (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) lapas yg ada di tanah air.

Seandainya kita berpikir hukum rimba maka negara bisa saja menutup mata membiarkan mereka terdampak covid-19 dan akhirnya sebagian besar tidak tertolong. Tetapi kita sebagai bangsa yg beradab dan bermartabat tidak bisa dan tidak boleh melakukan hal itu demi menafsirkan dikarenakan kepentingan diri sendiri. Sebagian napi tersebut yg dibebaskan telah menjalani 2/3 masa tahanannya.

Pertanyaannya adalah, apakah pantas dan tega kita sebagai bangsa menutup hati kita membiarkan mereka “membusuk” di karenakan wabah covid-19, sementara, kita ketahui bahwa para napi adalah termasuk golongan orang paling rentan terserang wabah covid-19, karena di dalam Lapas mereka hidup dengan segala kekurangannya, baik kebersihan, daya imun yang rendah, stress, makanan yang kurang gizi, apalagi kondisi Lapas yang Over Capacity, tentunya Social distancing (Pembatasan sosial) atau menjaga jarak, untuk pengendalian penyebaran infeksi Covid-19 tidak akan terbendung.

Kita sebagai bangsa yang bermartabat, tidak berhak menghakimi mereka tanpa melakukan sesuatu disaat wabah covid-19 ini mewabah. Mereka juga adalah manusia seperti kita yg mempunyai kekhilafan. Dan mereka juga adalah manusia yg harus diperlakukan secara manusiawi. Para napi itu punya kesempatan mengakhiri masa hukumannya sesuai dgn kriminalitas yg mereka lakukan, tapi kita sebagai bangsa tidak bisa membiarkan mereka membusuk dalam penjara karena covid-19.

Pemerintah telah menunaikan kewajibannya menjalankan amanah UUD 45 melindungi segenap bangsa Indonesia, *Bahwa menolong nyawa anak bangsa ini tanpa melihat latar belakangnya adalah hal utama di atas hukum segalanya.”

Para napi memang pelaku kejahatan yg sedang menjalankan masa hukumannya tapi kita sebagai bangsa yang beradap membiarkan mereka kehilangan nyawanya di penjara karena wabah covid-19 ini akan beribu kali lebih biadab dari binatang sekalipun. Berapa ratus ribu nyawa yg akan melayang, kalau pemerintah tidak mengambil tindakan untuk membebaskan bersyarat seandainya para napi di lapas terkena covid-19 bagaimana mereka harus dirawat dan dijaga karena saat ini wabah covid-19 sedang merebak dimana-mana. Disaat negara dalam keadaan darurat memang sangat sulit membuat sebuah keputusan yg bijak ditengah-tengah penderitaan yang sangat kompleks saat ini. Dimana negara harus melindungi segenap nyawa anak bangsanya dan disisi lain harus mengayomi  dalam hal keamanan.

Memang sangat sulit, Dimana setiap keputusan yang dilakukan disaat-saat yang genting biasanya akan melibatkan resiko-resiko di setiap sisinya. Saat ini pemerintah berusaha menyelematkan nyawa para napi dimana nyawa mereka ditempatkan oleh negara dalam pembukaan amanat UUD 45 bahwa negara wajib melindungi segenap bangsa Indonesia, tetapi disisi lainnya pemerintah juga harus melindunginya dari kejahatan akibat kebijakannya tersebut. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa negara menempatkan nyawa anak bangsa ini baik dia napi atau siapapun adalah hal yg utama dan di atas segalanya. Negara tidak boleh membiarkan nyawa melayang dikenakan beberapa napi yg dibebaskan mengulangi tindakan kriminalitasnya. Negara telah mengambil sebuah keputusan yang sangat berani dan penuh resiko demi melindungi putra dan putri ibu pertiwi.

Setiap keputusan yang diambil tidak dapat kita melihat dari hanya satu sisi saja. Keputusan telah di ambil. Resiko kita hadapi. Saat seperti ini kita sebagai bangsa yg harus bijak menilai. Saatnya satukan hati menanggulangi resiko keamanan yg terjadi bukan karena napi yang bebas saja tapi dari kriminal-kriminal baru yang terbentuk dikarenakan jumlah pengangguran yang meningkat dan ekonomi yg sedang menurun dikenakan covid-19.

Banyak negara telah melakukan hal sama seperti Pemerintah lakukan dengan membebaskan napi-napi. saatnya kita bangkit. Bangsa ini pernah lebih susah dari sekarang sewaktu kita berjuang untuk merdeka menghadapi para penjajah. Kini saatnya kita jangan cuma mengeluh dan cengeng hanya menghadapi beberapa kriminalitas saja. Jangan kenyamanan saat ini yang diberikan oleh para pejuang bangsa ini kita jadikan alasan untuk tidak mau berpartisipasi untuk berjuang bersama menghadapi segala permasalah yg datang saat ini. Jangan kenyamanan yang kita rasakan saat ini membuat kita menyerahkan semua permasalahan kepada pemerintah. Jangan semua kenyamanan yang telah diberikan negara membuat kita manja menghadapi situasi yang sulit saat ini. Jangan kita hanya mengeluh, protes dan bernegatif thinking disaat ibu pertiwi memanggil para pejuang-pejuang bangsa ini untuk bangkit. Jangan ketakutan-ketakutan menghantui hati para putra-putri bangsa ini karena terlalu lama dalam kenyamanan hidup. Jangan..jangan… wahai bangsa Indonesia yang tegar. Wahai bangsa Indonesia memiliki sang pusaka merah putih. Saatnya kita bangkit. Buktikan kepada bangsa lain bahwa kita bisa melalui ini semua tanpa mengorbankan segenap nyawa anak-anak bangsanya sekalipun itu napi. Bentuklah siskamling yang telah lama hilang karena kehidupan yang nyaman. Kumpulkan harta kita untuk beramal kepada masyarakat yang berdampak. Aktifkan komunikasi-komunikasi yang menyejukkan hati dan batin lewat WhatsApp group dikala tempat-tempat ibadah tidak bisa kita datangi. Tidak ada gunanya di saat seperti ini memenjarakan sebanyak-banyaknya orang atas perbuatan kriminal mereka tanpa kita mengetahui akar masalah kriminalitas itu muncul. Apa yg memotivasinya. Apa yg mendorongnya melakukan kriminalitas itu. Saat seperti ini yang paling umum terjadi adalah karena faktor ekonomi. Kesusahan hidup akibat dampak Covid-19. Marilah kita bersatu dengan menyatukan hati kita jangan menciptakan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin disaat seperti ini. Bangkitkan kebersatuan hati bahwa si kaya ada karena si miskin ada. Jangan kita ciptakan jurang pemisah antar kaya dan miskin dengan tidak berbuat apa-apa disaat ibu pertiwi memanggil kita. Sedikit hartamu menolong si miskin akan menyelamatkan sebagian hartamu dari tindakan kriminal. Saatnya si kaya berbakti kepada negaranya dengan sebagian hartanya dan si miskin berbakti kepada negaranya dengan menjaga keamanan lingkungannya. Kalau ini terjadi maka kita dapat melihat mengurangi faktor kriminal yg terjadi. Rasa kepedulian itu dapat menangkal dorongan dan tindakan kriminal. Saatnya kita menjadi relawan-relawan dengan apa yang kita mampukan untuk memberi kepada bangsa ini. Saatnya kita tidak berpangku tangan saja melihat dan memprotes apa yg terjadi. Ibu pertiwi telah memanggil kita karena pemerintah tidak akan mampu menghadapi ini tanpa bantuan putra-putri  bangsa ini. Karena pemerintah mempunyai keterbatasan yang tidak bisa kita paksakan. Saatnya wahai bangsaku engkau tampil sebagai pahlawan ibu pertiwi. Searah akan menorehkan tintanya dengan darah anak-anak bangsa ini melawan Covid-19 yg akan menjadi cerita bagi generasi-generasi penerus bangsa. SATUKAN HATI kita. Merdeka…merdeka…merdeka..

Share This Post