Gara-gara Sebatang Rokok, Aku diceraikan Suami

Gara-gara Sebatang Rokok, Aku diceraikan Suami

Sungguh mengenaskan nasib Ibu beranak satu ini, sebut saja namanya Cinta (22). Gara-gara sebatang rokok Cinta diceraikan suaminya. Masalahnya sederhana saja, namun inilah Cerita realita perjalanan hidup Cinta yang kerap bergumul dengan masalah.

Cinta lahir dan hidup ditengah keluarga miskin, pekerjaan Ayahnya hanya nelayan kecil, sementara Ibunya hanya mengurus rumah tangga. Karena kemiskinan mereka, orang tuanya hanya mampu menyekolah Bulan sampai tingkat SMP saja. Ketika beranjak dewasa ia pun dinikahkan orang tuanya dengan pria biasa-biasa saja.

Akhir Desember 2015 lalu, Cinta masuk kesalah satu kedai kopi di Tanjungpinang dibilangan kilometer 6, dengan wajah tertunduk dan memegang rambut menutupi wajah sebelah kanan melalui beberapa meja pelanggan kedai kopi itu, duduk sendiri sembari memesan minuman.

Beberapa menit kemudian, pemilik kedai kopi, mengatakan kepada Komunitas, “Kasihan anak itu dipukuli pacarnya, mata kanannya bengkak dan badannya lebam-lebam” sontak Komunitas langsung mendekati untuk berupaya menggali informasi tersebut, namun sayang, ketika ditanya apa penyebabnya Bulan hanya menjawab “ terantuk pintu bang” kendati ditanya terus ia tetap saja bertahan dengan jawabannya.

Seminggu kemudia, (4 Januari 2016) Cinta datang lagi ke Kedai kopi tersebut dan duduk sendiri. Melihat Cinta sedang asik dengan iPadnya mendengarkan lagu dan bermain Game, pelan-pelan Komunitas mendekati Cinta untuk mengali Cerita sebenarnya. Ketika ditanya, apakah ia sudah sehat, Cinta menjawab singkat “Sudah Bang” namun setelah itu perbincangan kami mulai terarah.

Cinta berasal dari Labuan Deli-Medan Sumatera Utara, Ayahnya Batak Ibunya Melayu. Begini Ceritanya ; “Malam itu, entah kenapa aku merasa suntuk sekali memikirkan jalan hidupku yang tidak berkesudahan, lalu kuputuskan untuk pergi sendiri ke salah satu tempat sejenis Pusat Jajan dan Selera (pujasera) yang tidak begitu jauh dari Kosku, tempat itu ramai dikunjungi pelanggan yang hanya sekedar minum kopi, teh maupun Beer kaleng dan juga berada dilapangan terbuka.

Aku duduk sendiri di meja yang dekat dengan kasir dan aku tekadkan untuk memesan 2 kaleng Beer, aku belum pernah minum Beer tetapi harapan ku mungkin 2 kaleng Beer itu bisa sejenak menghentikan beban pikiranku yang selama ini ku rasakan. Tetapi sayang 2 kaleng Beer itu ternyata telah membuat kepalaku semakin berat dan pusing.

Tiba-tiba temanku (pria) datang menghampiriku, melihat diriku sudah terlihat mabuk, ia langsung menawarkan untuk mengantakan ku pulang , akupun langsung menerima tawaran tersebut. Sesampai di depan rumah Kos ku, temankupun langsung pergi.

Dikamar itu aku langsung tertidur. Siang esokan harinya, pacarku datang dengan wajah geram dan bertanya siapa pria mengatarkanku pulang semalam, aku menjawab apa adanya, dan pria itu adalah temannya juga, namun ia tetap saja menaruh rasa curiga yang besar terhadapku, ketika aku ingin keluar dari kamar Kos Ku, dengan ucapan yang kasar dan bernada keras ia menarik rambutku dan mendorong kepalaku kedinding samping pintu kamar, lalu menarikku kedalam kamar, tidak ada belas kasihan malahan pacarku semakin berang terhadapku.

Setelah puas pacarku melampiaskan amarahnya, ia pun pergi dari Rumah Kosku. Hari itu, kuputuskan tidak akan berhubungan dengannya lagi.

Kejadian ini, memang tidak ku laporkan kepada pihak yang berwajib, bukan karena rasa takut, tetapi aku selalu pasrah dengan suratan hidupku, Biarlah Tuhan yang menentukan semuanya. Sebelumnya, aku sudah pernah diperlakukan seperti ini oleh suamiku, hanya karena sebatang Rokok lalu aku diceraikannya.

Pada saat kejadian itu umur perkawinan kami berjalan lebih kurang sudah 3 tahun dengan dianugrahi seorang anak laki-laki berumur 2 bulan. Sebelumya suamiku bekerja di salah satu perusahaan dan kehidupan kami bisa dikatakan cukup, namun dibalik itu, aku selalu diremehkan oleh pihak keluarga suamiku, karena aku wanita hanya tamatan SMP dan miskin yang tidak bisa berbuat banyak untuk keluarga, namun aku tetap saja pasrah menjalani kenyataan itu selaku isteri.

Ketika umur perkawinan kami berjalan 2 tahun, suamiku di PHK dari perusahaannya, ekonomi kami semakin merosot, suamiku menjadi pengangguran, tetapi ditengah situasi seperti itu, Suamiku malahan menerima keponakannya (pria) untuk tinggal bersama kami.

Seperti biasanya, sebagai isteri aku tetap setia melayani suamiku walaupun ia masih menganggur, namun perhatian suami yang sangat berlebih terhadap keponakannya selama satu tahun itu, membuat diriku semakin tidak bisa membendung kesabaranku. Malam itu setelah usai makan malam di rumah kami, suamiku dengan nada keras memintaku untuk membelikan sebatang rokok ke kedai untuk diisap mereka berdua bergantian usai makan malam.

Dengan rasa geram, aku membantah permintaan suamiku, lalu suami marah sembari mendekati dan memakiku, akupun membalas makian itu. Mendengar balasan makianku, langsung saja aku ditampar suamiku, ketika itu juga tanpa rasa takut, ku pekikkan suaraku menyerang suamiku dengan pukulan tangan ketubuhnya, menarik rambutnya dengan kedua tanganku.

Perkelahian kami, disaksikan keponakannya dan tetangga yang berupaya melerai, didalam perkelahian itu, suami mengatakan dengan lantang “ Aku ceraikan kau” sebanyak dua kali, lalu ketika kami bisa dilerai, ia mengatakan lagi “ Aku ceraikan kau malam ini juga”

Malam itu juga, aku bersama anakku pulang kerumah orang tuaku dan menceritakan kejadian yang telah ku alami. Setelah beberapa hari kemudian suamiku mendatangi aku untuk merujuk kembali, tetapi dengan berat hati aku menolak permohonan rujuknya.

Selanjutnya, ku putuskan untuk meninggalkan kampung halamanku dan kutitipkan anakku kepada orangtuaku untuk merantau sendiri ke Kota Tanjungpinang. Sebelum berangkat, ibuku berpesan untuk menemui kelurganya yang berada di Tanjungpinang. Namun, sesampai di Kota Tanjungpinang aku enggan menemui keluarga dari pihak Ibuku, aku bertekad tidak mau lagi menyusahkan keluarga, aku ingin hidup mandiri, lalu dengan uang yang ada, aku Kos.

Susahnya mencari pekerjaan di Kota Tanjungpinang, membuatku semakin resah. Selama 5 bulan di Tanjungpinang, aku berkenalan dengan pacarku yang memukuli itu, ia membantuku untuk mendapakan pekerjaan disebuah Toko dan dari gaji perkerjaan itu, sebagian ku kirimkan kepada Ibuku untuk biaya anakku sampai saat ini.

Didalam Doa ku, Aku hanya berharap dan bermohon kepada Tuhan, agar aku selalu diberi kesehatan, keselamatan, pekerjaan yang lebih baik lagi, untuk kelangsungan hidup anakku. Dan semua kejadian telah kualami tidak akan kujadikan dendam, yang sudah sudahlah, mungkin ini jalan hidupku…Cinta”.

Share This Post

Post Comment