Seniman Joget Dangkong Melayu “Sengsara” di Negeri Melayu

Seniman Joget Dangkong Melayu “Sengsara” di Negeri Melayu

Mengenaskan sekali nasib Satiman (67 ) salah satu pelaku seniman Tradisi melayu Joget Dangkong, harus tinggal bersama istrinya Daria (60) dan anak bungsungnya di gubuk terpal yang didirikannya satu tahun lalu, dengan menumpang diatas tanah seseorang warga Tembeling Tanjung.
Walaupun Satiman seniman, namun Gubuk terpal itu bukanlah hasil karya seninya, melainkan bukti penderitaannya selaku Seniman Joget Dangkong. Dari pengakuan Satiman bahwa ia dan keluarganya telah turun temurun mempertahankan tradisi ini, namun sayang niat mempertahankan tradisi itu tetap menjadikan ia dan keluarganya hidup dibawah garis kemiskinan sampai kini. Ironis memang, tetapi itu realita yang dijalani pak Satiman yang akrab dipanggil “pak Odong” sampai saat ini.
Yang lebih mengenaskan lagi, pada tahun 2007 lalu, rumah tempat tinggal Pak Odong dan keluarganya dirobohkan dengan alat berat tanpa seijinnya oleh kontraktor pembuatan jalan aspal di desa tembeling Tanjung. Pada saat itu pak Odong dan isterinya harus bekerja di luar Desa tembe¬ling Tanjung, satu bulan lamanya untuk mendapatkan uang guna membiayai perni¬kahan anaknya. Namun, ketika Pak Odong pulang ke Tembeling, rumah seni per¬manen yang telah dibangu¬nannya selama 10 tahun dan menumpang di atas tanah ketua Rukun Tetang¬ga Pak Jantan, hancur be¬ran-takan rata dengan tanah, dan lebih kejamnya lagi, perkakas rumah, peralatan dapur, Televisi dan sebagai¬nya didalam rumah itu ikut hancur semuanya.
Ketika itu pak Odong dan isterinya sangat marah sekali melihat kejadian itu, namun apalah daya, karena merasa orang kecil, ia hanya bisa bersedih saja dan tidak tahu harus mengadu ke¬mana. Selanjutnya ia mene¬mui Pak Jantan pemilik tanah itu, pak Jantan menga¬takan bahwa dia telah me-man¬cang patok dari kayu sebagai batas tanah yang bisa ratakan oleh alat berat dan patok itu dipastikan pak jantan tidak mengenai ru¬mah pak Odong, malahan pak jantan telah menegaskan pada kontraktor agar rumah pak Odong jangan sampai didorong alat berat.
Lebih lanjut, Pak Odong dan isterinya berupaya untuk mengadu kepihak pemerin¬tah agar dapat penggantian walaupun hanya sebatas penggantian atap saja. Te¬tapi karena pak Odong orang miskin dan pelaku seniman Joget dangkong, pengaduannya tidak digub¬ris. Pak Odong adalah pen¬duduk kelahiran desa Tem¬beling Tanjung, Memiliki KTP dan KK asli, tetapi permohon penggantian ru-mahnya dari tahun 2007 sam¬pai saat ini, tidak pernah direalisasikan. Pak Odong dan isterinya kini hanya bisa berdoa, agar pe¬merintah dae¬rah bisa me¬nger¬ti pende¬ritaannya.
Kini, pak Odong sudah semakin berumur dan untuk bekerja keluar kampungnya, kecil kemungkinan ia laku¬kan. Dan mengisi masa tuanya ia sesekali turun kelaut untuk menangkap udang, ikan dan siang hari¬nya isterinya Daria berjualan minuman dan mie rebus digubuknya, tetapi itu tidak bisa diharap banyak.
Joget Dangkong yang tak lain adalah musik Melayu Kepulauaan. Lalu, mengapa disebut Joget Dangkong, ko¬non berasal dari bunyi-bunyian yang keluar dari alat musik pengiring tarian yaitu: gendang yang berbunyi “dang” dan gong yang ber¬bunyi “gung”. Kesenian ya¬ng memadukan unsur tari, mu¬sik, dan nyanyi yang tumbuh subur di perkam¬pungan nelayan ini dikenal sejak abad ke-17, dengan nama Joget Tandak atau Joged Lambak.
Seni tari dengan iringan musik dan nyanyian ini tersebar di daerah Tembe¬ling, Moro, Mantang, Pulau Panjang, dan Batam. Dan lagu-lagu yang dimainkan diantaranya adalah Betabik, Dondang Sayang, Seram¬pang Lau, Tanjung Katung, Johor Siput Kelapa, Gunung Banang, Tandak Udang Gan¬tung, Jambu Merah, Tanjung Balai dan Gule Batu. Tariannya meliputi tarian pembukaan (betabik), tari gembira (rancak), tari lem¬but dan tari penutup. Jumlah pemainnya terdiri atas 4 sampai dengan 8 penari, 3 orang pemusik dan seorang penyanyi. Kese¬nian ini bia¬sanya dipergelar¬kan atau dipentaskan pada malam hari, sekitar pukul 20.00 WIB sampai dengan tengah malam biasanya ke¬tika ada acara perkawi¬nan dan khi¬tanan, atau sengaja menga¬dakan per¬tun¬jukan keliling. Namun sa¬yang, sekarang sudah tidak ada lagi. Lalu apakah harus Pak Odong dan Teman-teman yang di¬ha¬rapkan un¬tuk terus mem¬pertahan seni Joget Dang¬kung itu. (gindo)

Share This Post

Post Comment