Perjanjian Gouvernement Hindia-Nederland dengan Kerajaan lingga-Riau 18 Mei 1905

Perjanjian Gouvernement Hindia-Nederland  dengan Kerajaan lingga-Riau 18 Mei 1905

Foto : Ilustrasi

Oleh : Gindo H Pakpahan

Provinsi Kepri – (KK) : Sengketa kepemilikan Pulau Batu Puteh antara Malaysia dan Singapura Sejak tahun 1979, mulai tanggal 21 Desember 1979, dipicu dari Direktur Nasional Pemetaan Malaysia menerbitkan peta berjudul Waters Teritorial dan Batas Landas Kontinen Malaysia menetapkan Pedra Branca atau Pulau Batu Puteh berada dalam perairan teritorial negara Malaysia. Namun, ternyata negara Singapura menolak penetapan negara Malaysia tersebut, dan penolakan dituangkan dalam catatan diplomatik tanggal 14 Pebruari 1980 dan meminta peta untuk diperbaiki.

Lalu pada tahun 1989, Singapura mengusulkan agar sengketa wilayah tersebut dibawa ke The International Court Of Justice (ICJ)  yakni, Makamah Internasional berkedudukan di Den Haag, Belanda.

Usulan itu diterima oleh Malaysia pada tahun 1994. Lalu, pada tahun 1998, teks Perjanjian Khusus untuk membawa masalah sengketa tersebut ke ICJ disepakati dan ditandatangani oleh kedua negara di Putrajaya, Malaysia, pada 6 Februari tahun 2003.

Sengketa wilayah yang berusia 28 tahun antara Malaysia dan Singapura pada Jumat 23 Mei tahun 2008, ICJ memutuskan bahwa Pedra Branca atau Pulau Batu Puteh adalah milik negara kedaulatan Singapura dan kedaulatan atas Batu Tengah milik negara Malaysia dan kedua negara sebelumnya berjanji untuk mematuhi keputusan ICJ yang bersifat final dan tidak melakukan banding

Pulau yang diperebutkan itu terletak di pintu masuk Selat Singapura sebelah timur. Terdapat 3 pulau yang dipersengketakan, yaitu Pedra Branca (disebut penjajah Portugis) dan disebut Pulau Batu Puteh oleh Malaysia, Batuan Tengah dan Karang Selatan.

Sementara gugus terumbu karang batuan tengah, dalam kenyataan adalah pantai utara dari pulau Bintan dalam wilayah Republik Indonesia, tetapi diserahkan pada Malaysia. Mengamati sengketa tersebut, dengan posisi Singapura berdekatan dengan Indonesia tentunya amat rentan konflik, karena Singapura sudah mereklamasi pantai di bagian Selatan yang berhadapan langsung dengan Indonesia yang akan berimbas pada garis pantai Indonesia di wilayah Pulau Batam Provinsi Kepulauan Riau.

Kalau disimak di peta, maka posisi Pulau Branca justru lebih dekat ke Tanjung Penyusop, Johor, Malaysia (7,7 mil laut) dan Tanjung Sading di Pulau Bintan, Indonesia (7,5 mil laut). Tapi, sayangnya sidang Mahkamah Internasional (ICJ) memenangkan Singapura dengan berpegang pada kenyataan yaitu secara de facto bahwa sejak 130 tahun lalu. Singapura mengoperasikan mercusuar Horsburgh di pulau karang itu.

Sejarahnya, besar kemungkinan bahwa pulau itu adalah milik Kesultanan Johor, tapi Kesultanan Johor dan Malaysia tidak pernah memprotes Singapura atas pembangunan dan pengoperasian mercusuar di pulau tersebut.

Pulau ini realitanya menjadi pintu masuk ke Selat Singapura, dan Pulau Batu Tengah dan Pulau Karang Selatan adalah terumbu karang atau pulau granit yang ada dalam gugus pulau-pulau kecil. Diperkirakan gugus pulau itu mengandung sedimen granit dengan deposit sebesar 858.384.000 meter kubik.

Disisi lain, dalam perjanjian yang telah dibuat antara Kesultanan Riau dengan Pemerintah V.O.C dan Hindia-Nederland tahun 1784-1909, pasal 2, yakni 1. Adapun di dalam kerajaan Lingga-Riau dan daerah taqlukannya termasuk :

a. Sekalian pulau-pulau yang termasuk dalam lingkungan Lingga-Riau, Batam Karimun dan pulau tujuh kecil; b. sekalian pulau-pulau Anambas; c. Sekalian pulau-pulau Natuna; d. sekalian pulau-pulau Tambelan; e. Sekalian pesisir pulau perca (Sumatera) disebelah utara Kuwala-kuwala Indragiri yang bernama Danci, Kateman, Mandah, Igal dan Gaung dan di sebelah selatan kuwala Indragiri yang bernama Reteh seperti dinyatakan lagi didalam sandingan huruf A dari perjanjian ini.

2. Maka Sri paduka Tuanku Sultan Berjanji akan membantu menentukan batasan antara kerajaan Lingga-Riau dengan daerah-daerah yang berbatasan dengannya, yaitu Indragiri dan Jambi, serta akan menerima keputusan Gouvernement Hindia-Nederland tentang batasan itu.

3. Demikian juga Sri Paduka Tuan Sultan mengaku akan menjunjung keputusan Sri Gouvernement Hindia-Nederland, jika kalau terbit sesuatu perselisihan tentang batasan dengan daerah-daerah yang berbatasan dengan Lingga-Riau.

4. Adapun yang tetap tanah milik Sri Paduka Gouvermenent Hindia-Nederland yaitu Pulau Bayan dan sepotong tanah di pulau Bintan, sebagaimana tersebut di dalam perjanjian pada tanggal 14 hari bulan Februari tahun 1899, yang telah di benarkan dan di tetapkan pada tanggal 22 hari bulan April tahun itu juga.

Disisi lain melalui adik Raja Abdul Rachman Maadlam sjah, yaitu Raja Ali Kelana cendekiawan Kerajaan yang membuat semua titik koordinat pulau-pulau Kerajaan dengan Sistem koordinat geografi digunakan untuk menunjukkan suatu titik di Bumi berdasarkan garis lintang dan garis bujur.

Garis lintang yaitu garis vertikal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan garis katulistiwa. Titik di utara garis katulistiwa dinamakan Lintang Utara sedangkan titik di selatan katulistiwa dinamakan Lintang Selatan. Garis bujur yaitu horizontal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan titik nol di Bumi yaitu Greenwich di London Britania Raya yang merupakan titik bujur 0° atau 360° yang diterima secara internasional. Titik di barat bujur 0° dinamakan Bujur Barat sedangkan titik di timur 0° dinamakan Bujur Timur.

SANDINGAN Huruf A. Fasal 2 dari Perjanjian : KETERANGAN Akan menyatakan pulau-pulau dan negeri-negeri yang menjadi jajahannya achadzat Lingga-Riau. Sekalian pulau-pulau dan terumbu-terumbu dan sebagian yang termasuk di dalam persegi banyak yang ditentukan oleh penjurusan di utara, timur, selatan dan barat sebagaimana tersebut dibawah ini :

a. BUAT LINGGA-RIAU
DAN PULAU-PULAU KARIMUN DAN PULAU TUJUH :

1° 15 mata derajat, lintang utara ; 103° 15 mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° 8 mata derajat, lintang utara ; 103° 45 mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° 10 mata derajat, lintang utara ; 103° 50 mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° 15 mata derajat, lintang utara ; 104° mata derajat bujur timur (Greenwich)
0° mata derajat, lintang utara ; 105° mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° mata derajat, lintang selatan ; 106° mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° 20 mata derajat, lintang selatan ; 105° 20 mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° mata derajat, lintang selatan ; 104° 30 mata derajat bujur timur (Greenwich)
0° 35 mata derajat, lintang selatan ; 104° mata derajat bujur timur (Greenwich)
0° 10 mata derajat, lintang utara ; 104° mata derajat bujur timur (Greenwich)
0° 45 mata derajat, lintang utara ; 103° 15 mata derajat bujur timur (Greenwich)

b. BUAT TOKONG PULAU-PULAU ANAMBAS :

3° 30 mata derajat, lintang utara ; 106° mata derajat bujur timur (Greenwich)
3° 30 mata derajat, lintang utara ; 106° 35 mata derajat bujur timur (Greenwich)
3° mata derajat, lintang utara ; 106° 35 mata derajat bujur timur (Greenwich)
2° 15 mata derajat, lintang utara ; 106° 10 mata derajat bujur timur (Greenwich)
2° 15 mata derajat, lintang utara ; 105° 20 mata derajat bujur timur (Greenwich)
3° mata derajat, lintang utara ; 105° 20 mata derajat bujur timur (Greenwich)

c. BUAT TOKONG PULAU-PULAU NATUNA
(Sebelah Utara dan Sebelah Selatan) :

5° mata derajat, lintang utara ; 107° 40 mata derajat bujur timur (Greenwich)
5° mata derajat, lintang utara ; 108° 10 mata derajat bujur timur (Greenwich)
2° 10 mata derajat, lintang utara ; 109° 25 mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° 45 mata derajat, lintang utara ; 108° 40 mata derajat bujur timur (Greenwich)
3° mata derajat, lintang utara ; 107° 20 mata derajat bujur timur (Greenwich)
4° mata derajat, lintang utara ; 107° 20 mata derajat bujur timur (Greenwich)

d. BUAT TOKONG PULAU-PULAU TAMBELAN:

1° 40 mata derajat, lintang utara ; 106° 10 mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° 40 mata derajat, lintang utara ; 107° – mata derajat bujur timur (Greenwich)
1° mata derajat, lintang utara ; 108° – mata derajat bujur timur (Greenwich)
0° mata derajat, lintang utara ; 108° 20 mata derajat bujur timur (Greenwich)
0° mata derajat, lintang utara ; 107° – mata derajat bujur timur (Greenwich)

Adapun Danei, Kateman, Manda, Igal dan Gaung mejadi satu lengkangan yang berbatas :
Disebelah utara pada kerajaan Pelalawan menurut petunjuk gunung Cucuran air sebelah kiri mudik dari sungai kampar mulai dari Tanjung Ongka terus ke ulunya;

Disebelah timur pada laut: Disebelah selatan dan Barat pada kerajaan Indragiri menurut suatu garis mulai di Kuwala Gaung ke darat sehingga batas utara. Adapun garis itu kelak akan di tentukan oleh Sri paduka Gauvernement bermufakat dengan pemerintahan Lingga-Riau dan Indragiri. Maka Pulau Ketaman dan Pulau Burung terhitunglah pada lengkangan yang tersebut itu.

Adapun perbatasan Reteh yakni berbatasan di sebelah utara dan barat : berbatas pada negeri Indragiri menurut suatu garis yang lurus mulai dari Tanjung Sapat luar ke tepi sebelah kiri mudik dari sungai Rateh di tempat pertemuan sungai ini dengan sungai Gangsal dan dari sini mengikut tepi sebelah kiri mudik sungai Reteh itu.

Disebelah selatan berbatas pada daerah Jambi menurut suatu garis mulai dari Tanjung Labu hingga ke tepi sebelah kiri mudik dari sungai Reteh.

Adapun garis itu kelak akan ditentukan oleh Sri paduka Gouvermenent bermufakat dengan pemerintahan Lingga-Riau dan Jambi.

Disebelah Timur berbatas pada laut. Maka pulau Kijang dan Pulau Buku di kuala Reteh termasuklah pada lengkangan itu.

Share This Post

Post Comment