Hebat, Hutan Lindung Kepri Semakin Plontos

Hebat, Hutan Lindung Kepri Semakin Plontos

Bagai tak mengindahkan aturan, para pebisnis kayu olahan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tampak semakin menggila. Kayu olahan siap pakai dari Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga, yang dibawa ke Tanjungpinang, menjadi bisnis yang menggiurkan. Kayu olahan yang ditenggarai illegal itu, kerap dibongkar pada malam hari hingga subuh. Dan kayu-kayu tersebut, biasanya masuk melalui pelabuhan Tikus.
Beberapa waktu lalu, media ini menemukan sejumlah kayu olahan siap pakai sedang ditumpuk di areal Loola Resort desa Galangbatang Kabupaten Bintan. Menurut penjelasan seorang operator alat berat di lokasi tersebut, bahwa yang menge¬ tahui tumpukan kayu itu hanya Jimy, “bapak tanya saja sama Jimy dari Bintan Vista. Karna dia yang me¬ngu¬rus kayu itu, “ujar lelaki berusia empatpuluhan itu diatas alat beratnya.
Disisi lain, seorang warga tempatan, yang mengetahui asal muasal kayu tersebut menga¬takan, kayu yang menumpuk itu berasal dari Kabupaten Lingga.
“Kema¬rin saya diberi tau sopir lori (truck-red), kalau kayu itu berasal dari Lingga. Dan kayu itu juga akan datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak, “katanya menirukan ucapan sopir truck yang ditemuinya.
Benar saja. Akhir bulan Maret lalu, media ini kembali menemukan aktivitas bong¬kar kayu illegall di Pelabuhan Tikus, yang terletak di RT 002 / RW 013, Kampung Sidomulyo Kelurahan Batu Sembilan Kecamatan Tan¬jungpinang Timur, kota Tanjungpinang.
Ratusan batang kayu olahan yang telah disulap menjadi kayu Broti itu, tampak berserak di lokasi pelabuhan Tikus tersebut.
Sementara wartawan Media melakukan peman¬tauan dilokasi itu, tiba-tiba, seorang lelaki menga-ku sebagai pengawas di lokasi itu, menemui media ini. Menurutnya, kayu-kayu tersebut akan dibawa ke lokasi Loola Resort Galang¬batang, “iya bang, kayu ini mau dibawa ke Loola Resort di Galangbatang. Mereka membutuhkan kayu lumayan banyak.
Mungkin dalam waktu dekat ini, akan datang lagi dari Dabok (Kab. Ling¬ga-red), “beber pria tersebut disam¬ping salah satu truck yang berisi kayu illegal di Pelabuhan Tikus itu.
Pada Kamis (23/4/2015) benar adanya, didapati, kayu yang dibongkar, diperkirakan berbobot 40 ton, “kalau saya lihat, kayu yang dibongkar tadi malam, beratnya berki¬sar empat puluh ton, “sebut sumber yang meminta namanya tidak dimuat.
Disinyalir pemiliknya berna¬ma Jufri, “iya pak. Kayu ini punya pak Jufri. Kalau kami disini hanya bekerja. “ucap lelaki berusia tiga puluhan itu, di lokasi pelabuhan.
Keterangan yang diberi¬kan lelaki itu, coba ditindak¬lanjuti. Dihari yang sama, Jufri dikonfir¬masi melalui ponsel¬nya. Saat itu Jufri mengakui, kalau kayu-kayu tersebut miliknya, “iya pak. Kayu itu punya saya. Dan kayu itu mau dibawa ke Pantai Loola. Memang betul, kayu itu berasal dari Kabu-paten Lingga, yang mengi¬rim kesini namanya pak Aseng, “kata Jufri mengakui (23/4/2015).
Lebih lanjut, begi¬tu besarnya frekwensi bongkar kayu di pelabuhan tikus itu, media ini coba mencari pemilik lahan. Dan menurut informasi yang didapat, bahwa pemilik lahan tersebut bernama Ibu Ani. Di toko material bangunan miliknya, Ibu Ani coba ditemui. Guna menanyakan izin pelabuhan yang dimilikinya. Namun, wanita berusia empat pul¬uhan itu menepis. Kalau lahan tersebut bukan miliknya, “oh…. Bukan pak. Lahan itu bukan milik saya. Bapak salah orang. Pokok¬nya saya tidak ada memiliki lahan disana, “kata Ibu Ani di toko materialnya (23/4/2015).
Terpisah, seorang warga Kampung Sodomulyo, ketika ditanya aktivitas bongkar kayu di pelabuhan tikus itu, mangakui, kalau di pela¬buhan itu memang sering dilakukan pembongkaran kayu.
“Memang disni sering dilakukan bongkar kayu. Yang paling sering me¬reka bekerja malam hari. Bahkan kadang kala sampai subuh, “ujarnya, sambil meminta agar namanya tidak dimuat.
kayu olahan diduga illegal, yang didatangkan dari Kabupaten Lingga, ke kota Tanjungpinang melalui pelabuhan tikus, kian hari terlihat semakin terang-terangan. Artinya, kayu olahan siap pakai yang baru dibongkar itu, selanjutnya diangkut ke Kabupaten Bin¬tan melalui jalan darat. Dan proses pengangkutan dilaku¬kan selalu siang hari. Semen¬tara, kota Tanjung¬pinang tempat tempat pem-bongkar¬kayu tersbut, tidak mendapat kontribusi, alias hanya kebagian am¬pas. Feno¬¬mena pembalakan liar yang kian membabibuta di Provin¬si Kepri ini, seakan tak lagi diawasi. illegal log-ging yang semakin meng¬gila, Padahal, jelas dilarang. Bah¬kan telah diatur dalam un¬dang-undang ten¬tang kehu¬tanan. Tapi, pelaku mem¬ban¬del ini, dan Kebal Hu¬kum. (richard).

Share This Post

Post Comment